Pentingnya Pendidikan Pra Nikah di Bangku Kuliah

Agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk tidak tergesa-gesa dalam segala tindakannya. Akan tetapi, ada sesuatu yang justru Islam menganjurkan untuk bersegera dilakukan. Setidaknya ada lima perkara: mengubur jenazah, membayar hutang, menghidangkan jamuan untuk musafir yang berkunjung, bertaubat, dan meni

Sudah merupakan fitrah manusia untuk mencintai lawan jenis, baik pria maupun wanita. Allah sendiri berfirman dalam surat Ali Imran “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan –perempuan, anak-anak, …” Islam sebagai agama yang haq dan sempurna sudah tentu mempunyai koridor dan batasan bagaimana me-manage rasa cinta kepada lawan jenis. Dan satu-satunya solusi yang ditawarkan adalah melalui ikatan suci pernikahan. Bahkan kedudukan nikah dijelaskan oleh Rasulullah SAW “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR. Thabrani dan Hakim).

Menikah terlihat mudah, tetapi sebenarnya urusan ini cukup pelik dan menuntut perhatian yang lebih. Perlu banyak bekal untuk menuju ke sana. Ambilah contoh betapa rumitnya ketika membuat sebuah rumah hunian. Membangunnya dibutuhkan perencanaan yang matang mulai dari pemilihan lokasi, bentuk bangunan, material yang digunakan, estimasi anggaran, sampai rincian lainnya. Hal tersebut dilakukan agar rumah yang dihasilkan adalah bangunan yang kokoh dan bagus. Jika membangun rumah yang notabene adalah untuk tujuan dunia perlu perencanaan yang baik, maka untuk membangun rumah tangga tentunya akan lebih membutuhkan persiapan yang benar-benar matang. Karena rumah tangga ini harapannya tidak hanya untuk tujuan dunia tetapi juga di akhirat kelak.

Jika umur umat Islam adalah 60 – 70 tahun, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Umur umatku adalah antara 60 tahun hingga 70 tahun” dan menurut statistik, rata-rata usia menikah penduduk Indonesia adalah pada usia 25 – 27 tahun, berarti sesorang akan mengarungi kehidupan berumah tangga selama sekitar 35 tahun atau dengan kata lain separuh lebih usia hidup di dunia akan dihabiskan dengan orang baru yaitu istri atau suami. Bisa dibayangkan ketika salah perhitungan dalam perencanaan rumah tangga, masa depan suram akan menunggu di depan mata, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.
Kejayaan Islam terwujud melalui pernikahan.

Salah satu tujuan pernikahan di samping beribadah kepada Allah serta tempat menyalurkan  gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan) yang halal, juga bertujuan untuk mempunyai keturunan. Pernikahan yang berkualitas akan menghasilkan keturunan yang qualified pula. Psikolog Abigael Wohing Ati memaparkan yang dimaksud pernikahan berkualitas adalah kondisi di mana dengan pernikahan dapat menghasilkan kebahagiaan, keseuaian serta kestabilan pernikahan. Sedangkan tingkat kualitas pernikahan sendiri dipengaruhi oleh faktor seperti komposisi optimal keluarga, siklus kehidupan keluarga, kelayakan sosioekonomi dan kesesuaian peran, faktor sumber daya sosial dan pribadi suami istri bahkan oleh kondisi pranikah. Menyinggung sedikit mengenai kondisi pranikah, penelitian yang dilakukan Fakultas Psikologi Undip Semarang, menyimpulkan bahwa kualitas pernikahan pasangan yang tidak membina hubungan sebelum nikah (pacaran) adalah lebih tinggi dibanding pasutri yang melakukan pacaran sebelum menikah.

Dalam Islam sendiri, pernikahan berkualitas akan diukur dari proses pra, pas, dan pasca nikah. Bagaimana seseorang memulai proses dari mencari calon istri atau suami hingga sampai aqad nikah dan pasca nikah akan mempunyai keturunan, kesemuanya itu dibalut dalam syariat yang jelas. Sehingga harapannya ketika mempunyai keturunan, adalah anak yang sholeh dan sholehah, bisa memberikan kebermanfaatan untuk umat.
Seperti contoh Umar bin Abdul Aziz. Salah seorang tokoh besar dalam sejarah Islam, sampai-sampai ahli sejarah Islam menjuluki beliau sebagai Khulafaur Rasyidin kelima setelah Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Gelar tersebut dirasa pantas mengingat prestasi yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz semasa menjadi khalifah pada era Dinasti Umayyah. Beliau berhasil mengembalikan stabilitas negara sama seperti pada masa Khulafaur Rasyidin. Dikisahkan pada saat itu tidak ada siapa pun umat Islam yang layak menerima zakat. Kondisi tersebut tercapai hanya dalam tempo sekitar tiga tahun pemerintahan.

Jika menelusuri silsilah Umar bin Abdul Aziz maka dapat dilihat bahwa beliau lahir dari pasangan pernikahan yang luar biasa. Kisah diawali ketika suatu malam Sahabat Umar bin Khattab yang saat itu menjadi Khalifah sedang berkeliling melihat kondisi rakyatnya, tidak sengaja mendengarkan percakapan Ibu dan anak. Si Ibu menyuruh menambahkan air pada susu agar terlihat banyak, tetapi sang anak menolak. Umar bin Khattab kagum lalu singkat cerita si anak perempuan tadi yang bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi dinikahkan dengan salah satu putranya yang bernama Ashim. Dari pernikahan tersebut lahirlah gadis bernama Laila atau lebih dikenal Ummu Ashim. Ummu Ashim seorang wanita yang shalihah lalu menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan suci inilah lahir seorang lelaki bernama Umar bin Abdul Aziz. Sang pemimpin umat Islam.
Kurikulum Pendidikan Pra Nikah

Keluarga memang menjadi tempat paling penting dalam penanaman ilmu keIslaman. Karena di sinilah anak akan belajar untuk pertama kalinya sebelum memperoleh ilmu dari luar lingkungan keluarga. Kerjasama yang baik antara Ayah dan Ibu sangat vital dalam proses tumbuh kembang anak. Akan tetapi, peran keluarga sebagai insititusi pendidikan non formal juga harus mendapat dukungan dari institusi pendidikan formal mulai dari dasar hingga tingkat lanjut. Seperti dijelaskan di awal, bahwa pernikahan adalah hal rumit dan ini harus dipaparkan dengan gamblang dari yang bersifat umum hingga mendetil bagaimana Islam mengatur hal tersebut. Mungkin ada permasalahan yang orangtua belum bisa menyampaikan dan harus disampaikan oleh yang lebih ahli dan berilmu.

Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi pendidikan formal, lebih-lebih perguruan tinggi Islam harus mengambil peran tersebut. Sebagai perguruan tinggi, tentunya institusi mempunyai tujuan agar para lulusannya bisa meniti karir dengan sukses. Kurikulum dan segala perangkatnya akan didesain sedemikian baik untuk menunjang harapan tersebut. Kondisi terbalik ketika berbicara masalah keIslaman, utamanya pada institusi pendidikan Islam, penyampaian ilmu agama termasuk diantaranya munakahat kurang mendapat perhatian lebih. Ini bisa dilihat dari porsi belajarnya yang relatif kecil. Sangat disayangkan jika para mahasiswa harus mencari ilmu agama di luar kampus, padahal dalam kesehariannya mereka menuntut ilmu di kampus yang berbasis agama. Sudah sepatutnya kondisi paradoks tersebut segera disikapi.

Padahal, kedudukan ilmu pengetahuan tentang membina rumah tangga yang Islami mempunyai andil yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Apalah arti karir sukses jika di level rumah tangga hancur berantakan karena tidak tahu bagaimana membinanya dalam bingkai Islam? Bagaimana dia akan bisa menjadi manajer yang baik di perusahaan jika di rumah dia gagal membina istri dan anak? Lebih menderita karena kegagalan membina rumah, membina anak, akan berimbas pada nasib manusia di akhirat nanti. Dan rasanya kurikulum pendidikan pra nikah lebih urgent serta layak diberikan ketimbang sekedar menyampaikan pendidikan seks kepada remaja.

Maka cukuplah Rasulullah SAW menjadi suri tauladan. Beliau adalah seorang pemimpin negara, pebisnis sukses, panglima perang yang gagah berani, tetapi beliau juga adalah seorang suami yang baik, dan ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Baik di dalam maupun luar rumah beliau tetap menjadi idola.

Marilah berupaya sekuat tenaga mengamalkan segala yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menjadikan rumah tangga yang kita bina adalah rumah tangga yang diberkahi, sehingga bisa menjadi jalan mencapai ridho Allah yaitu Surga yang penuh dengan kenikmatan. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabatnya.
Wallahu ‘Alam bi al-Shawwab.

sumber: almuqtashidin

Add comment

Security code
Refresh

Site Login